Sabtu, 20 Juli 2013

MENGENAL CAPUNGAN BANGGAI (Pterapogon kauderni)

Gambar. Ikan Hias Capungan Banggai (Pterapogon kauderni)
Sumber : (www.reefsanctuary.com)

Ikan capungan Banggai merupakan salah satu jenis ikan hias laut khas Banggai. Ikan ini merupakan sumber daya perikanan yang memiliki nilai komersial yang cukup tinggi. Keberadaannya di alam meningkatkan minat wisata alam laut karena warna dan bentuknya yang indah dan unik.
Menurut Tullock dan Michael (1999) ikan capungan Banggai diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom         : Animalia
Filum               : Chordata
Sub Filum        : Vertebrata
Super Klas       : Gnathostomata
Kelas               : Osteichtyes
Sub Klas          : Actinopterygi
Super Ordo     : Teleostei
Famili              : Apogonidae
Genus              : Pterapogon
Spesies            : Pterapogon kauderni, Koumans (1933)
Keberadaannya di alam meningkatkan minat wisata alam laut karena warna dan bentuknya yang indah dan unik.
Ikan ini termasuk famili Apogonidae yang merupakan anggota terbanyak dari ordo Perciformes dengan 27 genera dan 250 spesies yang tersebar di Samudera Pasifik, Samudera Atlantik dan Samudera Hindia. Memiliki bentuk tubuh agak pipih dengan dasar kuning dan keperak-perakan, terdapat garis-garis hitam yang vertikal dari sirip punggung ke sirip perut dan sirip dubur. Memiliki dua sirip punggung yang terpisah dengan jelas,sirip punggung pertama berjari-jari keras sedangkan garis punggung kedua berjari-jari lunak, mempunyai mata yang besar berwarna hitam dan bentuk mulut terminal dengan ukuran kecil. Panjang tubuh sekitar 3 – 8 cm dan pada saat dewasa berukuran 8 – 10 cm.
Daerah penyebaran sangat terbatas di wilayah Sulawesi Tengah bagian timur, tepatnya di Kepulauan Banggai, karena itu spesies ini termasuk endemik. Populasi ikan ini dapat ditemukan di perairan dangkal dengan kedalaman 0 – 5 m pada daerah lamun (sea grass) dan terumbu karang dimana banyak terdapat bulu babi dan anemon. Mereka hidup bersimbiosis dengan bulu babi (Diadema setosum) yang umumnya terdapat di perairan pantai. Simbiosis dilakukan dengan cara mengupayakan agar garis hitam pekat pada tubuh mereka membaur membentuk garis lurus dengan salah satu duri bulu babi yang bertujuan untuk penyamaran dan perlindungan dari serangan predator. Selain bulu babi, ikan ini juga memiliki tempat perlindungan lain yaitu anemon laut dengan cara memanfaatkan tubuh mereka yang kecil agar dapat menyelinap diantara helaian anemon laut.
Menurut Allen dan Steene (1995), kardinal Banggai merupakan ikan nokturnal aktif yaitu mencari makan pada malam hari. Makanannya berupa plankton, mikro krustasea dan ikan kecil. Perilaku biologis menunjukkan ikan ini mempunyai tingkah laku khas sebelum melakukan pemijahan dimana ikan jantan dan betina dewasa yang telah matang gonad akan memisahkan diri dari kelompoknya dan mencari tempat yang cocok dan sesuai untuk kawin. Sebelum sel telur dan sperma dikeluarkan, mereka akan melakaukan gerakan-gerakan unik yang disebut ”mating dance” atau percumbuan. Percumbuan dilakukan oleh ikan jantan dengan berenang-renang di sekitar ikan betina yang bertujuan untuk menarik perhatian .  Pemijahan berlangsung secara eksternal dimana sperma dilepaskan langsung ke arah telur yang sudah dikeluarkan namun masih menggantung pada tubuh  betina. Secar umum, memiliki fekunditas yang rendah dimana setiapo kali pemijahan induk betina hanya menghasilkan 15 – 40 butir telur saja.
Perbedaan individu jantan dan betina terletak pada ukuran tubuh, panjang sirip punggung kedua dan bukaan mulut. Jantan memiliki ukuran tubuh yang lebih besar, sirip punggung kedua yang lebih panjang dan bukaan mulut yang lebih besar dari individu betina. Induk jantan melakukan pengeraman telur yang telah dibuahi di dalam mulut (mouth breeder). Lamanya pengeraman 10 – 14 hari terhitung setelah terjadinya pembuahan. Telur yang dierami hanya sedikit dan berdiameter 2,8 – 3 mm.
Telur yang ditetaskan berkembang menjadi larva dan anak ikan dalam mulut induk jantan. Selama berlangsung tahapan tersebut, mulut jantan selalu terbuka. Waktu yang diperlukan untuk menjadi larva dan anak ikan adalah seminggu sebelum dilepas ke lingkungan sekitar. Pertumbuhan ikan ini tergolong lamban, setelah usia 2 bulan baru mencapai ukuran 1,8 – 2,5 cm.
Hasil penelitian Rusdi (2005) menunjukkan bahwa persentase indeks kematangan gonad ikan jantan dan betina tertinggi terjadi pada bulan September , Juli dan Oktober yang berarti aktifitas reproduksi pada bulan-bulan ini cukup besar sedangkan bulan Juni, Agustus dan Nopember aktifitas reproduksinya rendah. Hal ini menjadi warning tersendiri bagi para nelayan yang menangkap ikan kardinal Banggai pada bulan-bulan tersebut agar jangan sampai terjadi overfishing.
 Penyakit
Selama ini belum pernah dilaporkan adanya wabah (outbreak) yang menyerang ikan ini. Hasil pemantauan hama penyakit ikan karantina (HPIK) yang dilakukan oleh SKI Kelas II Luwuk Banggai pada tahun 2006 hanya menemukan parasit jenis Trichodina sp pada kerokan lendir. Praktis, faktor kualitas air dan keseimbangan ekologi yang terjaga pada habitat ikan ini turut membantu meminimalisir timbulnya penyakit yang menyerang ikan yang menjadi ciri khas Kabupaten Banggai Kepulauan ini.
Referensi
Allen, G and R.C. Steene.1995. Notes on the Ecology and Behaviour of the Indonesia cardinal Fish (Apogonidae). Rev for Aquariol.
 Rusdi (2005). Studi Beberapa Aspek Biologi Ikan Kardinal Banggai (Pterapogon kauderni) di Kabupaten Banggai Kepulauan Propinsi Sulawesi Tengah.
 Tullock, J and S, Michael, 1999. Aquarium Frontiers Enviromental Aquaritest, (www. animalnetwork.com).
 Zamrud, M. 2009. Mengenal Lebih Dekat Capungan Banggai (Pterapogon kauderni). Info Karikan:  Edisi 6 Vol. III | September-Desember 2009.
BACA SELENGKAPNYA »»  

Rabu, 10 Juli 2013

FENOMENA/UNIK UDANG WARNA KUNING (YELLOW)

 
Gambar. Udang warna kuning (yellow shrimp)


Fenomena unik terjadi pada budidaya udang vaname. Dimana udang tersebut memiliki warna kuning pada organ tubuhnya. Udang ini ditemukan di tambak udang dengan budidaya sistem intensif di Propinsi Jawa Timur pada bulan Juni tahun 2013. Udang tersebut berumur sekitar 80 hari dengan berat 13 gr atau masuk size sekitar 74 ekor/kg. Yang menyebabkan udang berwarna kuning masih belum diketahui karena diantara udang yang lain udang ini hanya ditemukan 1 ekor. Menurut pendapat saya kemungkinan udang disebabkan oleh jenis makanan (fitoplankton) yang dimakan udang. Karena ada beberapa jenis fitoplankton yang memiliki pigmen warna kuning sehingga udang akan berwarna kuning (yellow) bila memakan jenis fitoplankton tersebut. Ini diperkuat bahwa tambak tersebut merupakan tambak jenis tanah yang memudahkan pertumbuhan berbagai jenis plankton. Tidak kemungkinan juga disebabkan oleh penyakit. 
BACA SELENGKAPNYA »»  

Senin, 01 Juli 2013

PARAMETER KUALITAS AIR DI PERAIRAN

Gambar 1. Parameter Kualitas Perairan
Dalam dunia perikanan parameter kualitas air mempunyai peranan yang sangat penting. Hal ini dikarenakan nilai kualitas aiar dapat menunjukkan apakah air tersebut layak atau tidak untuk budidaya perikanan. Selain itu, parameter kualitas air juga mampu mendeteksi tingkat kesuburan perairan. Parameter kualitas air dibagi menjadi tiga, yaitu :
I.          Parameter Fisika
Parameter fisika adalah salah satu parameter yang digunakan untuk mengukur kadar kualitas air yang berhubungan dengan fisika seperti suhu, kecepatan arus, kecerahan dan tinggi air. Parameter fisika meliputi :
1.        Suhu
Suhu adalah ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda (air).
2.        Kecepatan arus
Kecepatan arus adalah gerakan massa air dari satu tempat ke tempat lain baik secara vertikal (gerak ke atas) maupun secara horizontal (gerakan ke samping) dengan satuan m/s.  
3.        Kecerahan
Kecerahan adalah suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan cahaya untuk menembus lapisan air pada kedalaman tertentu.
4.        Kedalaman
Kedalaman adalah suatu keadaan yang menunjukkan tinggi rendahnya air dengan satuan meter (m).
5.        Warna air
Warna air adalah parameter yang menunjukkan warna perairan yang dipengaruhi oleh jenis substrat atau biota yang mendiami perairan tersebut seperti plankton dan lain-lain.
6.        Salinitas
Salinitas adalah konsentrasi total ion di perairan dengan satuan ppt (part per thousand).

II.          Parameter Kimia
Parameter kimia adalah parameter yang sangat penting untuk menentukan air tersebut dikatakan baik atau tidak dalam budidaya perikanan. Parameter kimia meliputi DO, pH, amoniak, nitrat, nitrit, TAN, TOM, fospor, BOD, COD, alkalinitas, kesadahan, CO2 dan lain-lain. Parameter kimia meliputi :
1.      DO (Dissolved Oxygen)
Oksigen  terlarut (DO) adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesa dan absorbsi atmosfer/udara dengan satuan ppm (part per million).
2.      pH (Power of Hydrogen atau Poisson Hard)
pH adalah suatu ekpresi dari konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam air. Besarannya dinyatakan dalam minus logaritma dari konsentrasi ion H.
3.      COD (Chemical Oxygen Demand)
Chemical Oxygen Demand adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh biota perairan dalam reaksi kimia dengan satuan ppm (part per million).
4.      BOD (Biology Oxygen Demand)
Biology Oxygen Demand  adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh biota perairan dengan satuan ppm (part per million).
5.      CO2 (Karbondioksida)
Karbondioksida adalah jumlah karbon yang dihasilkan oleh biota air dalam respirasi dengan satuan ppm (part per million).
6.      Amonia (NH4)
Amoniak adalah senyawa yang terbentuk dari oksidasi bahan organik yang mengandung bahan nitrogen dalam air dengan bantuan bakteri. Amonia merupakan produk sisa metabolisme yang utama dari ikan.
7.      Nitrat (NO3-)
Nitrat adalah hasil dari proses nitrifikasi oleh bakteri Nitrobacter.
8.      Nitrit (NO2-)
Nitrit adalah hasil dari proses oksidasi amonia oleh bakteri Nitrosomonas.
9.      Total Amonia Nitrogen (TAN)
Total Amonia Nitrogen (TAN) adalah gabungan dari beberapa senyawa nitrogen yang meliputi NH4 (amonia terionisasi, karena memiliki ion positif) dan NH3 (tak terionisasi, karena tidak memiliki ion)
10.  Total Organic Matter (TOM)
Total Organik Matter (TOM) atau sering disebut bahan organik terlarut total merupakan kandungan bahan organik total atau keseluruhan di perairan yang terdiri dari bahan organik terlarut, tersuspensi (particulate) dan koloid.
11.  Alkalinitas
Alkalinitas adalah suatu parameter kimia perairan yang menunjukan jumlah ion karbonat dan bikarbonat.
12.  Kesadahan
Kesadahan adalah kandungan mineral tertentu di dalam air, umumnya yaitu ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau sering disebut dengan air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi.
13.  Total Dissoved Solid (TDS)
Total Dissoved Solid (TDS) adalah jumlah ukuran zat terlarut (baik itu zat organik maupun anorganik) yang terdapat pada sebuah larutan. TDS menggambarkan jumlah zat terlarut dalam part per million (ppm) atau sama dengan milligram per liter (mg/L).
14.  Total Suspended Solid (TSS)
Total Suspended Solid (TSS) adalah residu dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2μm atau lebih besar dari ukuran partikel koloid.
15.  Hidrogen Sulfida (H2S)
H2S adalah gas beracun yang dihasilkan dari hasil penguraian atau perombakan bahan organik oleh bakteri.
   
III.          Parameter Biologi
Parameter biologi adalah parameter yang digunakan untuk mengetahui kepadatan biota di dalam air. Biota tersebut dapat berupa plankton, benthos, perifiton, bakteri maupun biota jenis lainnya. Tetapi dalam dunia perikanan biota yang sering diukur adalah jenis plankton dan bakteri baik biota yang menguntungkan maupun yang merugikan. Parameter biologi meliputi :
1.      Plankton
Plankton adalah mikroorganisme yang hidup melayang di perairan, mempunyai gerak sedikit sehingga mudah terbawa oleh arus. Plankton merupakan salah satu komponen utama dalam sistem rantai makanan atau food chain dan jaring makanan atau food web (Ferianti, 2007). Plankton dibagi menjadi dua jenis yaitu fitoplankton (plankton tumbuhan) dan zooplankton (plankton hewan).
2.      Bakteri
Bakteri adalah salah satu golongan organisme prokariotik (tidak mempunyai selubung inti), uniselluler dan berukuran renik (mikroskopis). Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain. Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri yang menguntungkan seperti golongan Bacillus sp, Nitrosomonas, Nitrobacter dll. Sedangkan bakteri merugikan antara lain adalah Vibrio sp, Pseudomonas dan lain-lain.  
Daftar pustaka

Ferianti FM. 2007. Metode Sampling Bioekologi. Jakarta : Bumi Aksara.
BACA SELENGKAPNYA »»